Masakan Khas Daerah Jawa

Cari Resep Berdasarkan Nama
Cari Resep Berdasarkan Huruf
Document

B

BOTOK

Botok (bahasa Jawa boṭokIPA [bɔʈɔʔ], Hanacarakaꦧꦺꦴꦛꦺꦴꦏ꧀) adalah makanan khas Jawa yang terbuat awalnya dari ampas/bungkil kelapa yang sudah diambil sarinya  atau santan[1]. Pada awalnya botok yang terbuat dari ampas kelapa ini dimasak, agar ampas kelapa yang masih bergizi ini tidak dibuang. Oleh karena itu ampas kelapa ini kemudian dibumbui dengan cabaigarammerica dan daun salam, dibungkus  dalam daun pisang, yang kemudian dikukus dalam uap panas. Bothok pada saat ini  dimodifikasi juga dengan petai cinatahuteriudang atau bahkan larva tawon/lebah (dikenal sebagai bothok tawon). (Source : Wikipedia). Asal usul nama “botok” konon berasal dari bahasa Jawa “mbotok”, yang artinya adalah membungkus atau membungkuskan. Hal ini merujuk pada cara pembuatan sayur botok yang dibungkus dengan daun pisang sebelum dikukus. Botok berisi ikan teri, pete cina, dan kelapa tanpa diperas airnya, dimasak dengan berbagai bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai, garam, dll. Mepunyai arti kelapa dan petai cina adalah hasil bumi, sedangkan ikan teri dari laut. Jadi botok adalah kombinasi makanan hasil dari bumi dan laut yang dibentuk menjadi satu agar manusia dapat mensyukuri apapun yang telah diberikan oleh Tuhan.

Bahan-bahan:

  1. 1 buah kelapa muda parut
  2. Teri rebus       
  3. Petai cina
  4. 6 siung bawang merah
  5. 5 siung bawang putih
  6. 7 buah cabai merah keriting
  7. 10 buah cabai rawit
  8. Daun pisang secukupnya 
  9. Garam         
  10. Gula
  11. Penyedap

Cara membuat:

  1. Rendam teri dengan air panas terlebih dahulu (opsional).
  2. Haluskan cabai, bawang merah, bawang putih.
  3. Siapkan wadah yang agak besar, campurkan kelapa parut dan bumbu halus, beri garam, gula, penyedap, aduk  hingga merata.
  4. Koreksi rasa kalau sudah.
  5. Masukan teri dan pete cinanya, aduk sampai merata.
  6. Bungkus menggunakan daun pisang.
  7. Siapkan kukusan.
  8. Kukus botok kurang lebih 25 menit sampai matang.
  9. Setelah 25 menit botok bisa di angkat di sajikan.

 

BUNTIL

Buntil (Jawaꦧꦸꦤ꧀ꦛꦶꦭ꧀translit. Bunṭil) adalah makanan tradisional yang berasal dari Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, makanan ini berupa “parutan daging kelapa yang dicampur dengan teri dan bumbu-bumbu, dibungkus daun pepaya, kemudian direbus dalam santan.[1][2] Makanan ini biasa dijajakan di pasarmaupun pedagang kaki lima sebagai lauk untuk nasi. Buntil dideskripsikan sebagai “parutan kelapa dengan ikan teri yang dibungkus daun pepaya”.[3] Buntil sebenarnya adalah semacam bothok yang dibungkus dengan daun muda singkong dan diberi sedikit cairan kuah pedas yang terbuat dari santan. Isinya adalah parutan kelapa yang diberi bumbu. Daun pembungkus lain yang sering digunakan adalah daun talas atau daun sente. Berbeda dengan bothok, daun pembungkus pada buntil juga dapat turut dikonsumsi. Di daerah Laut Tengah (terutama dari Yunani dan Turki), dikenal pula makanan semacam buntil dengan pembungkus daun anggur muda dan diisi dengan nasi. (Source : Wikipedia). Nama “buntil” berasal dari kata dalam bahasa Jawa “mbuntil” yang berarti membungkus atau membalut. sayur buntil dinamakan demikian karena bahan utamanya yaitu daun yang dibalut dengan adonan kelapa dan rempah-rempah sebelum diolah menjadi hidangan yang lezat.

 

Bahan-bahan:

  1. 1 buah kelapa muda parut
  2. Teri rebus
  3. Petai cina
  4. 6 siung bawang merah
  5. 5 siung bawang putih
  6. 7 buah cabai merah keriting
  7. 8 buah cabai rawit
  8. Daun talas secukupnya
  9. Garam
  10. Gula
  11. Penyedap

Cara membuat:

  1. Rendam teri dengan air panas terlebih dahulu (opsional)
  2. Haluskan cabai, bawang merah, bawang putih
  3.  Siapkan wadah yang agak besar, campurkan kelapa parut dan bumbu halus, beri garam, gula, penyedap, aduk hingga merata
  4. Koreksi rasa kalau sudah
  5. Masukan teri dan pete cinanya, aduk sampai merata
  6. Bungkus menggunakan daun keladi dan ikat menggunakan tali dari bambu, bisa menggunakan benang
  7. Siapkan kukusan
  8. Kukus botok kurang lebih 20 menit sampai matang
  9.  Setalah 20 menit botok bisa di angkat dan disajikan

 

G

GARANG ASEM

Garang asem (Jawa: ꦒꦫꦁꦲꦱꦼꦩ, translit. Garang asêm) adalah makanan tradisional khas Jawa Tengah.[1] yang dibuat dari olahan ayam yang dimasak menggunakan daun pisang dan didominasi oleh rasa asam dan pedas. Garang asem berasal dari Grobogan namun kini garang asem populer di Kudus, bahkan kini Garang Asem ada di beberapa kota di provinsi Jawa Tengahdan DI Yogyakarta memiliki makanan tradisional ini. Antara lain SemarangSurakartaMagelangYogyakartaDemakKudusPati, dan Pekalongan. Garang asem biasa disajikan sebagai lauk pendamping nasi, ditambah dengan tusukan ayam asam manis, tempe goreng, dan perkedel. (Spurce : Wikipedia). Dinamakan Garang Asem karena hidangan ini memiliki rasa yang garang atau pedas dan asam. Kata “garang” berasal dari bahasa Jawa yang berarti pedas atau menyengat, sedangkan “asem” berarti asam. Garang asem lebih di dominasi oleh rasa asam dan pedas sehingga menambah kenikmatan saat menyantap hidangan ini. Cara memasak garang asem cukup sederhana, hanya perlu menyediakan ayam serta potongan cabai dan belimbing sayur (belimbing wuluh) sebagai penguat rasa asam (Kasus et al., 2009). Bahan yang digunakan agar masakan ini memiliki rasa asam yaitu mnggunakan belimbing sayur (belimbing wuluh) kalau tidak ada bisa digantikan dengan tomat hijau.

 

Bahan-bahan:

  1. 1 ekor ayam kampung dipotong-potong
  2. 6 siung bawang merah
  3. 4 siung bawang putih
  4. 1 ruas jahe
  5. 1 ruas lengkuas geprek       
  6. 3 butir kemiri     
  7. 5 buah cabe merah kriting
  8. 4 buah cabe hijau
  9. 10 buah Cabe rawit       
  10. 4 buah belimbing wuluh ukuran sedang         
  11. 3 buah tomat hijau       
  12. 1 batang serai geprek     
  13. 1 jempol lengkuas geprek      
  14. 2 lembar daun salam     
  15. 1 bungkus santan instan 65 ml
  16. Garam
  17. Gula
  18. Penyedap


Cara
membuat:

  1. Haluskan bawang putih, bawang merah, dan kemiri
  2. Iris kecil-kecil jahe
  3. Iris juga cabai merah, cabai hijau, belimbing wuluh, dan tomat
  4. Panaskan wajan
  5. Beri sedikit minyak makan
  6. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan     
  7. Masukan lengkuas, serai, dan salam
  8. Ditumis sampai wangi
  9. Masukan ayam kampung (ini menggunakan ayam ukuran sedang)         
  10. Beri air
  11. Ungkep Sampai matang dan airnya sedikit menyusut       
  12. Masukan santan aduk-aduk
  13. Masak sebentar
  14. Masukan bumbu yang sudah di iris-iris, beri garam gula, penyedap aduk-aduk sebentar, dan koreksi rasa   
  15. Matikan api kompor
  16. Bungkus ayam menggunakan daun pisang   
  17. Kukus sekitar 30 menit lalu angkat         
  18. Garang asem siap dihidangkan

 

L

LODEH

Lodeh (Jawa: ꦗꦔꦤ꧀ꦭꦺꦴꦝꦺꦃ, translit. Jangan lodhèh) adalah masakan sayur yang berkuah santan khas Indonesia, terutama di daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Sayur lodeh mempunyai berbagai macam variasi terutama pada bumbunya, ada yang santannya berwarna putih dan ada juga yang santannya berwarna kuning kemerahan.Bahan-bahan yang sering digunakan adalah labu jipangkacang panjangterungpetaitempecabaijagung kecil dan santan. Resep masakan yang enak dan gurih ini sangat menyegarkan dan cocok jika dipadukan dengan serundeng daging, empal daging, telur asin dan ikan tongkol. Dan biasanya dihidangkan bersama dengan sambal. Masakan ini menyerupai kari, tetapi masakan ini menggunakan sayur-sayuran daripada menggunakan daging atau boga laut. (Source : Wikipedia). Sayur lodeh dianggap sebagai salah satu hidangan khas Indonesia yang memiliki hubungan dengan masakan tradisional Jawa yang telah ada sejak lama. Sayur berkuah ini terbuat dari tujuh bahan utama dan siraman santan yang sedikit pedas. Ahli gizi yang mempelajari hidangan ini mengatakan ada manfaat kesehatan dari bahan-bahan tambahannya, seperti lengkuas, yang dianggap mengandung kualitas anti-inflamasi. Tujuh bahan utama yang ditambahkan ke kuah santan — melinjo, daun melinjo, labu siam, kacang panjang, terong, nangka, dan tempe — memiliki makna simbolis yang diturunkan dari suku katanya. Dalam bahasa Jawa, kata wungu dari terong wungu berarti berwarna ungu, tapi juga bisa berarti ‘terbangun’; sementara lanjar dari kacang lanjar (atau kacang panjang) bisa dimaknai sebagai ‘berkah’.

 

 

Bahan-bahan:

  1. 1 papan tempe
  2. Segenggam daun melinjo
  3. Sedikit tangkil
  4. Sedikit nangka muda    
  5. 1 buah terong ungu    
  6. 1 buah labu siam
  7. 4 buah kacang panjang

 

Bumbu:

  1. 6 siung bawang putih 
  2. 5 siung bawang merah 
  3. 4 buah cabai merah keriting
  4. 1/2 sendok teh ketumbar
  5. 2 lembar daun salam
  6. 1 ruas lengkuas geprek
  7. santan encer dari 1/2 butir kelapa
  8. Garam
  9. Gula
  10. Penyedap


Cara
membuat:

  1. Potong-potong terlebih dahulu tempe, kacang panjang, labu siam, terong, dan nangka muda
  2. Iris-iris cabai merah keriting
  3. Haluskan bawang merah dan bawang putih
  4. Panaskan wajan 
  5. Beri sedikit minyak makan
  6. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan
  7. Masukan lengkuas, dan salam
  8. Ditumis sampai wangi
  9. Masukan segelas air mineral  
  10. Masukan melinjo, dan nangka muda terlebih dahulu, tunggu sampai setengah matang
  11. Dilanjut dengan memasukan tempe dan terong, kalau air sudah menyusut bisa ditambahkan sedikit lagi
  12. Masukan labu siam, dan kacang panjang, tunggu sebentar masukan daun melinjo dan cabai yang sudah di iris-iris
  13. Masukan santan cair, aduk-aduk agar tidak pecah santan sampai mendidih
  14. Beri garam, gula, dan penyedap
  15. Koreksi rasa, kalau sudah pas, patikan api kompor
  16. Lodeh siap dihidangkan

 

N

NASI KUNING

Nasi kuning adalah makanan khas Indonesia. Makanan ini terbuat dari beras yang dimasak bersama dengan kunyit serta santan dan rempah-rempah. Dengan ditambahkannya bumbu-bumbu dan santan, nasi kuning memiliki rasa yang lebih gurih daripada nasi putih. Nasi kuning adalah salah satu variasi dari nasi putih yang sering digunakan sebagai tumpeng. Nasi kuning biasa disajikan dengan bermacam lauk-pauk khas Indonesia. Dalam tradisi Di Indonesiawarna nasi kuning melambangkan gunung emas yang bermakna kekayaan, kemakmuran serta moral yang luhur. Oleh sebab itu nasi kuning sering disajikan pada peristiwa syukuran dan peristiwa-peristiwa gembira seperti kelahiran, pernikahan dan tunangan. (Source : Wikipedia). Nasi kuning dianggap sebagai lambang kejayaan dan harapan apa yang dinginkan dapat terkabul di masa yang akan datang (Ayuningtyas, 2017). Dalam konteks ini penggunaan warna kuning pada makanan ini terkait dengan kepercayaan atas makna lambang tersebut. Dalam hal ini, nasi kuning memiliki makna yang lebih luas dari sekedar nutrisi tetapi terkait dengan kepercayaan. Masakan ini telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Jawa dan sering dihidangkan dalam acara-acara adat di Jawa.

 

 

Bahan-bahan:

  1. 1/2 kg beras 
  2. Kunyit bubuk secukupnya (agak banyak biar warnanya cantik)
  3. 1/2 kelapa diparut ambil santannya
  4. 3 lembar daun salam    
  5. 2 batang serai  
  6. 1 siung bawang putih diparut
  7. Garam dan penyedap rasa ayam secukupnya


Cara
membuat:

  1. Campurkan santan, kunyit bubuk, bawang putih yang sudah di parut 
  2. Siapkan wajan masukan beras yang sudah di cuci, beserta serai yang sudah di geprek, dan daun salamnya
  3. Masukan santan yang sudah di campur tadi
  4. Beri garam dan penyedap secukupnya
  5. Masak menggunakan api kecil, dan selalu di aduk agar tidak gosong bagian bawahnya, ini sering di katakan teknik “mengaron” dimana nasi dimasak setengah matang lalu dikukus untuk mematangkan nasi nya
  6. Siapkan kukusan (untuk mengukus nanti kalau nasi yang di aron airnya sudah menyusut)
  7. Tunggu sampai dia menyusut tidak ada airnya patikan api kompornya
  8. Pastikan kukusan airnya sudah mendidih
  9. Pindahkan beras yang sudah di aron tadi ke kukusan 
  10. Kukus sampai nasi matang, jangan lupa sesekali di aduk agar matangnya merata
  11. Di coba nasinya, kalau sudah matang angkat dan sajikan nasi kuning bersama pelengkap yang lain 

P

PECEL

Pecel atau pecal (Jawaꦥꦼꦕꦼꦭtranslit. pêcêl) adalah panganan tradisional yang berasal dari PonorogoJawa Timur. Makanan ini biasanya dihidangkan dengan bumbu sambal kacang sebagai bahan utamanya dan dicampur dengan aneka jenis sayuran. Pecel populer terutama di wilayah DI YogyakartaJawa Tengah, dan Jawa Timur. Secara etimologi, “pecel” berasal dari bahasa Jawa dapat diartikan sebagai ‘tumbuk’ atau ‘dihancurkan dengan cara ditumbuk’. Pecel berasal dari Kabupaten PonorogoJawa Timur, salah satu daerah penghasil kacang-kacangan di Indonesia. Dalam kehidupan masyarakat Ponorogosambal kacang juga digunakan dalam bumbu Sate Ponorogo.[1][2] Makanan ini juga mirip dengan gado-gado, yang membedakannya adalah campuran bahan dan tekstur bumbunya. Kemudian mulai dikenal di luar Ponorogo karena dibawa oleh Warok Ponorogo pada zaman Hindia Belanda yang merantau di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di Jawa Timur hingga luar Indonesia.[1] Kemudian muncul Pecel Madiun merupakan hidangan pecel yang berasal dari Madiun. Di samping itu, pecel juga dapat ditemukan di MalaysiaFilipinaThailand, dan Suriname dengan cita rasa yang sedikit berbeda dari pecel di Indonesia karena perbedaan jenis kacang yang digunakan.[3] (Source : Wikipedia) 

Bahan-bahan:

  1. Bayam
  2. Kacang panjang
  3. Tauge
  4. Pepaya muda
  5. Timun
  6. Kacang tanah
  7. Bawang putih
  8. Kencur
  9. Jeruk purut
  10. Cabai rawit
  11. Gula merah
  12. Garam
  13. Air asam jawa (siapkan mangkuk beri 2 buah asam jawa dan tambahkan air secukupnya)

 

Cara membuat:

  1. Potong-potong bayam, kacang panjang
  2. Serut pepaya mudanya
  3. Didihkan air lalu rebus bayam, kacang panjang, pepaya muda, dan tauge sampai matang, angkat dan tiriskan
  4. Panaskan wajan beri minyak, goreng kacang tanah sampai kekuningan


Cara
membuat bumbu kacang untuk 1 porsi pecel 

  1. Siapkan uleg’an haluskan cabai (jumlahnya sesuai selera), 1 1/2 ruas kencur, 1/2 siung bawang putih, sejumput garam, sepotong kecil kulit jeruk purut
  2. Jika sudah halus masukan 3 sendok makan kacang tanah goreng, haluskan
  3. Masukan 1/2 bulat gula merah ukuran kecil
  4. Beri air asam sampai bumbu kacang sedikit cair, koreksi rasa
  5. Siapkan piring masukan semua sayuran, beri potongan timun diatasnya, siramkan bumbu kacang ke atas sayuran
  6. Beri toping kerupuk dan gorengan agar lebih nikmat
  7. Pecel siap dihidangkan

 

R

RAWON

Rawon (Aksara Jawa:ꦫꦮꦺꦴꦤ꧀) adalah masakan Indonesia berasal dari Ponorogo yang berupa sup daging berkuah hitam dengan campuran bumbu khas yang menggunakan kluwek. Rawon, Menyebar keluar Ponorogo karena Ponorogo memiliki peran Penting dari masa ke masa, hingga dikenal sebagai masakan khas Jawa Timur (daerah Arekan), masyarakat Jawa Tengah sebelah timur (daerah Surakarta).[1] Rawon disajikan bersama nasi, dilengkapi dengan tauge berekor pendek, telur asindaun bawangkerupuk udang, daging sapi goreng (empal), dan sambal. Beberapa pelengkap lain yang juga dapat dihidangkan bersama rawon adalah olahan jeroan dan di daerah Pasuruan rawon juga lazim dikonsumsi dengan mendol (perkedel tempe) dan disajikan di atas daun pisang. Kunci lezat rawon juga berada pada olahan kuahnya yang berasal dari kaldu daging yang digunakan, baik dari lemak daging, tulang muda, maupun kulit. (Source : Wikipedia). Ada yang berpendapat bahwa nama “Rawon” berasal dari kata “arah” yang dalam bahasa Jawa berarti pewarna alam yang terbuat dari bahan tanaman, yang digunakan dalam proses pembuatan kuah Rawon untuk memberikan warna hitam kecoklatan yang khas pada kuahnya. Penampakan sup daging ini khas dengan kuah kaya rempah-rempah dan bahan-bahan khas seperti kluwek, serai, dan daun jeruk. Keluwak sebagai beberapa kali disebut dalam Serat Centhini yaitu salah satu naskah sastra Jawa yang yang ditulis pada tahun 1735 Jawa dengan sengkalan atau angka tahun berbunyi tata guna swareng nata “tahun 1811 Masehi” (Ayuningsih, 2017).

 

Bahan-bahan:

  1. 1/2 kg daging sapi (bagian sengkel)
  2. 5 butir kluwek
  3. 10 siung bawang putih
  4. 10 siung bawang merah
  5. 3 buah cabai merah keriting
  6. 4 butir kemiri
  7. 1 ruas kecil kencur
  8. 1 ruas kecil jahe
  9. 1 ruas kecil kunyit
  10. 1 ibu jari lengkuas geprek
  11. 3 lembar daun jeruk
  12. 1/2 sendok teh merica
  13. 1/2 sendok makan ketumbar
  14. 1 sendok teh jinten
  15. 3 batang serai geprek

 

Pelengkap:

  1. Tauge berekor pendek
  2. Bawang goreng
  3. Telur asin
  4. Sambal


Cara
membuat:

  1. Potong-potong daging
  2. Didihkan air, rebus potongan daging sampai empuk, lalu tiriskan, sisihkan air bekas rebusan dagingnya
  3. Kupas kluwek ambil isinya, rendam menggunakan air panas
  4. Haluskan bawang putih, bawang merah, cabai, kemiri, kencur, jahe, kunyit, merica, ketumbar, jinten, dan kluwek
  5. Panaskan jawan beri minyak sedikit
  6. Tumis bumbu halus, dan masukan lengkuas, serai, daun jeruk
  7. Tumis hingga harum
  8. Masukan daging aduk-aduk sebentar
  9. Masukan kembali daging ke air bekas rebusan yang tadi
  10. Biarkan sampai daging berubah warna menjadi lebih gelap
  11. Beri garam, gula, dan penyedap
  12. Aduk-aduk, dan koreksi rasa
  13. Angkat dan sajikan dengan bahan pelengkap

 

S

SAMBAL TUMPANG

Tumpang berasal dari kata temumpang. Artinya adalah berada di atas. Sambal tumpang adalah simbol harapan agar kehidupan kedua mempelai di masa depan berada di posisi di atas. Tidak di posisi bawah. Posisi di atas dapat bermakna kesuksesan, kesejahteraan, dan hal-hal baik dalam kehidupan. Dahulu, sambal tumpang menjadi bagian penting dari upacara siraman calon mempelai perempuan. Upacara siraman dilakukan menjelang acara pernikahan. Sambal tumpang menjadi salah satu hidangan pada upacara siraman ini. Sambal tumpang menjadi simbol harapan agar berkah Allah temumpang (tertumpang) bagi kedua mempelai.Sambal tumpang adalah masakan yang dibuat dari bahan dasar tempe yang dibusukkan (tempe bosok) dan dicampur aneka bumbu. Penggunaan tempe yang dibusukkan ini menciptakan aroma khas yang tajam. (Source : Buku “Belajar Dari Makanan Tradisional Jawa” Kemendikbud). Bumbu yang digunakan untuk memasak sambal tumpang, antara lain cabai, bawang merah, bawang putih, kencur, daun salam, daun jeruk purut, garam, dan gula. Untuk kuahnya digunakan santan. Sambal tumpang yang dimasak hari ini akan memiliki rasa lebih mantap jika dimakan esok hari. Biasanya sambal tumpang disajikan dengan nasi yang di atasnya diberi aneka sayur rebus, seperti kenikir, bayam, kangkung, daun singkong, daun pepaya, kacang panjang, bunga turi, dan tauge. Kemudian, sambal tumpang disiramkan di atas sayuran ini. Sebagai pelengkap hidangan biasanya nasi sambal tumpang diberi peyek kacang atau peyek teri(Achroni, 2017).

 

Bahan-bahan:

  1. 3 buah papan tempe semangit ukuran sedang
  2. 6 siung bawang merah
  3. 5 siung bawang putih
  4. 7 buah cabe merah keriting 
  5. 10 buah cabai rawit
  6. 2 butir kemiri sangrai
  7. 1 ruas lengkuas geprek
  8. 1 1/2 ruas kencur
  9. 2 lembar daun jeruk
  10. 1 lembar daun salam
  11. santan instan 65 ml
  12. 1/2 bulat gula merah

 

Cara membuat:

  1. Potong-potong tempe menjadi dadu
  2. Rebus tempe bersama cabai, bawang, dan kencur
  3. Tunggu sampai empuk, lalu tiriskan (sisihkan air bekas rebusannya)
  4. Haluskan tempe lalu sisihkan dulu
  5. Setelah itu haluskan juga bumbu yang tadi direbus dan kemiri
  6. Panaskan wajan dengan sedikit minyak
  7. Tumis bumbu, masukan lengkuas yang sudah digeprek beserta daun salam dan daun jeruk, dan masukan juga cabai rawit utuh
  8. Masukan tempe dan air bekas rebusannya tadi
  9. Masukan gula merah dan santan
  10. Beri garam, penyedap, dan sedikit gula pasir, aduk-aduk sampai semua tercampur
  11. Koreksi rasa
  12. Angkat dan sajikan

 

T

TEMPE BACEM

Bacem atau baceman (Jawaꦧꦕꦼꦩ꧀translit. Bacěm) merupakan sajian panganan dari daerah Mataraman seperti kota Semarang, Surakarta dan Magelang di Jawa Tengah; Tasikmalaya di Jawa Barat dan DI Yogyakarta. Orang Yogyakarta menyukai bacem yang bercitarasa manis, yaitu dengan bumbu khas gula merah. Sebetulnya bacem merupakan cara pengolahan makanan untuk mengawetkan produk, biasanya adalah tempe dan tahu.[1] Dibacem artinya direndam dalam air gula atau garam supaya bahan makanan menjadi awet.[1] Bacem tempe dan tahu biasa dimakan hangat-hangat dengan nasi. Di daerah Kaliurang, Yogyakarta dikenal jadah bacem, yaitu jadah/uli yang disajikan bersama-sama dengan tempe dan tahu bacem.

Bahan-bahan:

  1. 1 papan tempe 
  2. Air kelapa
  3. 4 siung bawang putih
  4. 4 siung bawang merah
  5. 1 sendok teh ketumbar 
  6. 1 ruas asam jawa
  7. 2 lembar daun salam
  8. 1 lempeng gula merah
  9. Kecap manis sesuai selera

 

Cara membuat:

  1. Potong-potong tempe sesuai selera
  2. Haluskan bawang merah, bawang putih, dan ketumbar
  3. Larutkan asam jawa dengan sedikit air buang bijinya
  4. Panaskan wajan
  5. Masukan tempe, air kelapa, bumbu halus, aduk-aduk hingga merata
  6. Tunggu air agak menyusu masukan gula merah, garam, kecap manis, aduk-aduk, koreksi rasa, tunggu sampai air benar benar menyusut, patikan api kompor
  7. Tempe bacem siap disajikan

 

U

URAP SAYUR

Urap (kadang dieja urab atau disebut jamak urap-urap) (Jawaꦈꦫꦥ꧀) adalah hidangan selada berupa sayuran yang dimasak (direbus) yang dicampur kelapa parut yang dibumbui sebagai pemberi cita rasa.[1] Urap lazim ditemukan dalam masakan Indonesia, akan tetapi jika ditelusuri, urap berasal dari khazanah masakan Jawa. Urap sama sekali tidak mengandung daging, dan dapat dimakan begitu saja sebagai makanan vegetarian[2] atau sebagai sayuran teman nasi sebagai bagian dari hidangan lengkap. Urap biasanya merupakan syarat atau hidangan penting sebagi sayur pengiring dan pelengkap tumpeng Jawa. Urap juga lazim disajikan bersama nasi kuning. (Source : Wikipedia). . Urap juga disebut dengan “kulupan”.
Urap merupakan simbol dalam bentuk rasa syukur karena sang kuasa telah memberikan kehidupan didunia dengan nikmat pangann dan sesama mahluk ciptaanya harus saling menjaga. Urap yang artinya urip atau hidup atau kehidupan maka manusia dalam hidupnya juga harus menjaga alam yang ada sehingga senantiasa akan diberikan berupa keberkahan berupa rezeki, terlindungi dan sebagainya yang termuat dalam sayuran yang ada (Mukaromah & Imamah, 2021). Kulupan (urap-urap) memiliki rasa segar. Kesegaran bermakna mengandung doa agar pemilik hajat segar bugar seperti daun-daun yang dijadikan kulupan tersebut (Mulyaningtyas & Arinugroho, 2017). Urap biasanya merupakan syarat atau hidangan penting sebagi sayur pengiring dan pelengkap tumpeng Jawa. Urap juga lazim disajikan bersama nasi kuning. Urap Sayur urap yang juga menjadi pelengkap tumpeng memiliki makna bahwa semua orang harus mampu menafkahi keluarganya (Dyah Novarel et al., 2021).

 

Bahan-bahan:

  1. 1/4 tauge
  2. 1 buah timun
  3. 1 ikat sawi pait
  4. 1 ikat kacang panjang
  5. Daun pepaya
  6. 1 ikat bayam
  7. 1 ikat daun kenikir
  8. Daun kemangi

 

Bumbu:

  1. 1 buah kelapa parut setengah tua
  2. kencur 2 ruas jari
  3. 6 cabai merah keriting
  4. 5 cabai rawit merah
  5. cabai rawit hijau sesuai selera
  6. 7 siung bawang putih
  7. 7 siung bawang merah
  8. 2 lempeng gula merah
  9. 1 buah trasi ukuran kecil
  10. 2 ruas jari asam jawa
  11. Garam
  12. Gula pasir

 

Cara membuat:

  1. Panaskan air secukupnya
  2. Potong-potong sayuran
  3. Rebus semua sayuran kecuali timun
  4. Larutkan asam jawa dengan sedikit air
  5. Haluskan bumbu (cabai, bawang merah, bawang putih, terasi, kencur
  6. Panaskan wajan, beri minyak makan sedikit, masukan bumbu yang sudah dihaluskan, aduk-aduk sebentar
  7. Masukan kelapa parutnya aduk-aduk hingga merata
  8. Masukan juga gula merah yang sudah diiris-iris
  9. Aduk-aduk masukan gula pasir dan garam
  10. Biarkan sampai tanah agar unti kelapa tidak mudah basi
  11. Koreksi rasa, kalau sudah pas, patikan api kompor
  12. Siapkan wadah campurkan sayuran dan uti kelapa
  13. Urap siap dihidangkan

 

Tips:

  1. Campurkan unti kelapa dan sayuran sebelum disajikan saja (jangan langsung semua dicampur), supaya lebih segar dan mencegah cepat basi
  2. Sayuran bisa divariasikan sesuai selera